Judul Cerpen : Sang Primadona
Karya : A. Mustofa Bisri
Kehidupan
merupakan fase yang harus dijalani. Kehidupan bagaikan roda yang berputar,
terkadang di atas dan ada kalanya harus turun ke bawah. Begitu pula perjalanan
hidup manusia yang berbeda-beda. Terkadang manusia menjalani hidupnya dengan
mudah dan bahagia, namun terkadang kesulitan pun datang menghampiri. Sabar dan
usaha adalah kunci utama agar manusia bisa terus menjalankan hidupnya. Dan tak
lupa bahwa Sang Pencipta pasti akan memberi pertolongan kepada hambanya yang
membutuhkan.
Gambaran tersebut diceritakan dalam
cerpen berjudul “Sang Primadona” karya A. Mustofa Bisri. Latar cerita cerpen
dibentuk melalui keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu,
ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar tempat yang diungkapkan
dalam cerpen terjadi di daerah Ibu Kota (Jakarta). Sedangkan latar suasana yang
tergambar pada cerpen adalah suasana sedih dan membingungkan karena begitu
banyak masalah tang terjadi.
Dalam cerpen “Sang Pemimpi” ini
pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama karena tokoh utama dalam
cerita menggunakan kata “aku” yang berarti menceritakan dirinya sendiri. Di
sini A. Mustofa Bisri atau yang biasa dikenal dengan sebutan Gus mus menampilkan
beberapa tokoh yang terlibat dalam cerita, namun tidak disebutkan siapa
nama-nama dari tokoh tersebut. Di antaranya terdapat tokoh aku, suami dari
tokoh aku, dan ibu dari tokoh aku. Sedangkan ada beberapa tokoh seperti anak
dan teman dari tokoh aku yang disebutkan tanpa digambarkan karakternya karena
hanya sebagai pelengkap saja.
Setiap tokoh memiliki karakter yang
berbeda. Karakter tokoh aku adalah baik, pekerja keras, dan mandiri. Hal itu
terlihat pada kutipan kalimat berikut: “…
pendek kata aku bangga
bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua.
Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di
kampung.” Karakter tokoh suami adalah mudah goyah, pemarah atau
temperamental. Hal itu terlihat pada kutipan kalimat berikut: “Kami, terutama suamiku, tidak siap
menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan
seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi
pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa
sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam
keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di
luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah
lagi bertanya.”
Karakter tokoh ibu adalah baik,
penyayang, dan religius. Hal itu diungkapkan pada kutipan kalimat berikut: “Kedua orang tuaku pun, meski tidak
memanjakanku, sangat menyayangiku.” dan “Nduk,
ibadah itu penting. Bagaimanapun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!” Sempatkan
membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampong dulu, agar tidak
hilang.Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir
miskin dan anak yatim.”
Gaya bahasa yang digunakan pada
cerpen “Sang Primadona” ini adalah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan
kebanyakan orang sehingga mudah untuk dimengerti. Selain itu tidak terdapat
kata-kata yang sulit sehingga pembaca bisa memahami cerita dalam cerpen. Cerpen
“Sang Pemimpi ini menggunakan alur mundur (flashback) karena cerita yang
terdapat dalam cerpen ini mengungkapkan cerita saat ini kemudian menceritakan
kisah masa lalu sang tokoh yang penuh dengan masalah sehingga membuatnya
bingung di masa kini.
Cerpen
ini mengangkat tema mengenai kehidupan, perubahan prilaku seseorang yang pada
akhirnya menjadi manusia yang lebih baik sebagai hikmah dari semua masalah yang
dihadapinya. Hal itu dipertegas melalui kalimat: “… dari sekadar sebagai
artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang
diperhitungkan.”
Cerpen “Sang Primadona” mengajarkan
kepada kita semua untuk selalu besabar dan menjalani hidup dengan baik dan
seimbang. Berjuang untuk hidup bahagia di dunia namun tidak melupakan akhirat.
Kita harus selalu ingat dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dalam keadaan
susah maupun senang agar kita tidak salah jalan dan mendapat jawaban yang dapat
menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Dan pada akhirnya kita dapat
menjalankan kehidupan ke depan dengan lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar