Senin, 06 Februari 2012

Analisis Cerpen Berdasarkan Prndekatan Struktural

Judul Cerpen           : Sang Primadona
Karya                     : A. Mustofa Bisri

          Kehidupan merupakan fase yang harus dijalani. Kehidupan bagaikan roda yang berputar, terkadang di atas dan ada kalanya harus turun ke bawah. Begitu pula perjalanan hidup manusia yang berbeda-beda. Terkadang manusia menjalani hidupnya dengan mudah dan bahagia, namun terkadang kesulitan pun datang menghampiri. Sabar dan usaha adalah kunci utama agar manusia bisa terus menjalankan hidupnya. Dan tak lupa bahwa Sang Pencipta pasti akan memberi pertolongan kepada hambanya yang membutuhkan.
            Gambaran tersebut diceritakan dalam cerpen berjudul “Sang Primadona” karya A. Mustofa Bisri. Latar cerita cerpen dibentuk melalui keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadinya suatu peristiwa. Latar tempat yang diungkapkan dalam cerpen terjadi di daerah Ibu Kota (Jakarta). Sedangkan latar suasana yang tergambar pada cerpen adalah suasana sedih dan membingungkan karena begitu banyak masalah tang terjadi.
            Dalam cerpen “Sang Pemimpi” ini pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama karena tokoh utama dalam cerita menggunakan kata “aku” yang berarti menceritakan dirinya sendiri. Di sini A. Mustofa Bisri atau yang biasa dikenal dengan sebutan Gus mus menampilkan beberapa tokoh yang terlibat dalam cerita, namun tidak disebutkan siapa nama-nama dari tokoh tersebut. Di antaranya terdapat tokoh aku, suami dari tokoh aku, dan ibu dari tokoh aku. Sedangkan ada beberapa tokoh seperti anak dan teman dari tokoh aku yang disebutkan tanpa digambarkan karakternya karena hanya sebagai pelengkap saja.
            Setiap tokoh memiliki karakter yang berbeda. Karakter tokoh aku adalah baik, pekerja keras, dan mandiri. Hal itu terlihat pada kutipan kalimat berikut: “… pendek kata aku bangga bisa menjadi perempuan yang mandiri. Tidak lagi bergantung kepada orang tua. Bahkan kini sedikit-banyak aku bisa membantu kehidupan ekonomi mereka di kampung.” Karakter tokoh suami adalah mudah goyah, pemarah atau temperamental. Hal itu terlihat pada kutipan kalimat berikut: “Kami, terutama suamiku, tidak siap menghadapi situasi yang memang tidak terduga ini. Dia begitu terpukul dan seperti kehilangan keseimbangan. Perangainya berubah sama sekali. Dia jadi pendiam dan gampang tersinggung. Bicaranya juga tidak seperti dulu, kini terasa sangat sinis dan kasar. Dia yang dulu jarang keluar malam, hampir setiap malam keluar dan baru pulang setelah dini hari. Entah apa saja yang dikerjakannya di luar sana. Beberapa kali kutanya dia selalu marah-marah, aku pun tak pernah lagi bertanya.”
          Karakter tokoh ibu adalah baik, penyayang, dan religius. Hal itu diungkapkan pada kutipan kalimat berikut: “Kedua orang tuaku pun, meski tidak memanjakanku, sangat menyayangiku.” dan “Nduk, ibadah itu penting. Bagaimanapun sibukmu, salat jangan kamu abaikan!” Sempatkan membaca Quran yang pernah kau pelajari ketika di kampong dulu, agar tidak hilang.Bila kamu mempunyai rezeki lebih, jangan lupa bersedekah kepada fakir miskin dan anak yatim.”
            Gaya bahasa yang digunakan pada cerpen “Sang Primadona” ini adalah bahasa sehari-hari yang biasa digunakan kebanyakan orang sehingga mudah untuk dimengerti. Selain itu tidak terdapat kata-kata yang sulit sehingga pembaca bisa memahami cerita dalam cerpen. Cerpen “Sang Pemimpi ini menggunakan alur mundur (flashback) karena cerita yang terdapat dalam cerpen ini mengungkapkan cerita saat ini kemudian menceritakan kisah masa lalu sang tokoh yang penuh dengan masalah sehingga membuatnya bingung di masa kini.
Cerpen ini mengangkat tema mengenai kehidupan, perubahan prilaku seseorang yang pada akhirnya menjadi manusia yang lebih baik sebagai hikmah dari semua masalah yang dihadapinya. Hal itu dipertegas melalui kalimat: “… dari sekadar sebagai artis, aku berkembang dan meningkat menjadi "tokoh masyarakat" yang diperhitungkan.”
            Cerpen “Sang Primadona” mengajarkan kepada kita semua untuk selalu besabar dan menjalani hidup dengan baik dan seimbang. Berjuang untuk hidup bahagia di dunia namun tidak melupakan akhirat. Kita harus selalu ingat dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta dalam keadaan susah maupun senang agar kita tidak salah jalan dan mendapat jawaban yang dapat menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi. Dan pada akhirnya kita dapat menjalankan kehidupan ke depan dengan lebih baik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar